laporan jembatan wheatstone


LAPORAAN PRAKTIKUM ALAT – ALAT UKUR
“JEMBATAN WHEATSTONE”


DISUSUN OLEH :
IREN FANNYSAH NAIBAHO
N I M  : A1C317065

DOSEN PENGAMPU :
FIBRIKA RAHMAT BASUKI, S.Pd, M.Pd
N I P  : 201504052018

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
LABORATORIUM PENDIDIKAN FISIKA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI 2018
I.                   JUDUL                       : JEMBATAN WHEATSTONE

II.                TUJUAN
1.      Dapat memahami prinsip kerja Jembatan Wheatstone
2.      Dapat Menunjukkan Persyaratan – persyaratan yang berlaku pada jembatan wheatstone
3.      Dapat menghitung besarny nilai sebuah jembatan whetastone


III.             LANDASAN TEORI
Menurut Cooper (1974: 150 -151), Jembatan wheatstone dipakai
Secara. Luas pada pengukuran presisi tahanan sekitar 1 Ω sampai rangkaian mega ohm rendah sumber kesalahan utama pada kesalahan batas dari ketiga tahanan yang dilalui kesahalan bisa dicakupi  :

·         Sensitifitas detector nil yang tidak mencukupi
·         Perubahan tahanan lengan karena efek pemanasan
·         Kesalahan – kesalahan karena efek tahanan sambung dan kontak – kontak luar memegang peranan dalam pengukuran nilai – nilai tahanan yang tidak diketahui sangat rendah.




                  Menurut Herlan (2014: 1), Salah satu pengukuran resistor yang sudah dikenal sejak lama yaitu memakai alat ukur Jembatan Wheatstone baik pabrikasi maupun non pabrikasi. Pada alat ukur jembatan wheatstone tersedia satu fasilitas utama yang berfungsi sebagai detector dengan sensiritiftas yang tinggi yang disebut Galvanometer. Dalam hal penggunaan jembatan wheatstone atau alat ukur baik pabrikasi maupun non pabrikasi seperti jembatan potensiometer, hasil pengukuran besaran komponen resistor yaitu dengan cara membandingkan pada kondisi keseimbangan titik nol Galvanometer.           

            Menurut Young (2002: 148 – 149), Pada gambar rangkaian jembatan mempunyai empat lengan resesif beserta sebuah sumber GGL (baterai) dan sebuah detector nol yang biasa nya adalah galvanometeratau alat ukur arus sensitive lain nya. Arus yang melalui galvanometer tergantung pada potensial antara titik C dan titik D. jembatan disebut setimbang bilsa beda potensial pada galvanometer adalah 0V,artinya tidak ada arus yang mengalir pada galvanometer. Kondisi ini terjadi apabila tegangan dari titik C ke A sama dengan tegangan dari titik D ke A atau dengan mendasarkan keterminal lainnya. Jika tegangan dari titik C ke B sama dengan tegangan dari titik C ke B sama dengan tegangan dari titik D ke B jadi jembatan adalah setimbang jika I1 R1 = I2 R2.

            Menurut Sappie, Nishino (1974: 102), Prinsip dari jembatan wheatstone yaitu sirkit listrik yang terdiri dari empat tahanan, dan sumber tegangan yang dihubungkan melalui dua titik diagonal, dan pada kedua titik diagonal yang lain galvanometer ditempatkan. Mengenai syarat keseimbangan untuk jembatan
adalah :

·          Keadaan seimbang tidak dipengaruhi oleh pergantian posisi dari sumber tegangan dan galvanometer.
·          Kondisi keseimbangan tidak dipengaruhi bila tegangan dari sumber tegangan berubah.
·         Galvanometer hanya diperlukan untuk melihat bahwa tidak ada arus yang mengalir melalui sirkitnya, jadi tidak perlu membaca harga arus pada skala.

Untuk cabang-cabang rasio harga tahanan masing-masing tidak perlu teliti, tetapi hanya harga rasio antara keduanya yang penting, dan harga rasio inilah yang harus
didapatkan seteliti mungkin. Akan tetapi harga tahanan dari cabang pengatur harus diketahui seteliti mungkin.

            Menurut Cahyono (2002: 2), Jembatan wheatstone memiliki 4 buah tahanan R1, R2, R3, RX, dengan R1 merupakan tahanan variabel R2 dan R3 merupakan resistor yang diketahui dan Rx merupakan tahanan yang tidak diketahui yang berkaitan dengan keluaran transduser. Jika saklar S1 ditutup maka tegangan E bekerja dan dengan mengatur tahanan variabel R1 maka jembatan dapat diseimbangkan. Ini berarti bahwa pada potensial diantara titik B dan D adalah nol. Keadaan seimbang bias diketahui dengan cara menutup saklar S2 dan mengubah-ubah nilai R1 sehingga galvanometer menunjukkan bahwa tidak ada lagi arus yang mengalir.


IV.             ALAT DAN BAHAN
          Jembatan wheatstone
    Galvanometer
    Multimeter digital
    Power supply
    Resistor
    Potensiometer
    Kabel penghubung
    Breadboard

V.               PROSEDUR PERCOBAAN



1.      Susun alat-alat seperti pada gambar, dengan R adalah resistance box,
Rx hambatan tunggal, hambatan seri atau hambatan parallel yang akan diukur, (,r) adalah power supply DC, Rs adalah rheostat, G adalah galvanometer, dan A adalah ampermeter.
2.   Periksakan rangkaian pada pembimbing praktikum anda.
3.   Geser perlahan-lahan ujung konektor K ke kiri atau ke kanan
sehingga jarum galvanometer tepat menunjuk nol.
4.      Kemudian catat panjang l1 dan l2, serta kuat arus pada ampermeter,
catat pula nilai R yang digunakan
5.      Ulangi percobaan sebanyak 5 kali dengan kuat arus yang berbeda-
beda.
6.   Ulangi percobaan masing-masin 5 kali untuk Rx yang lain .




VI.             ANALISIS DATA
a.       Mencari RX rangkaian seri
R1 L1 = Rx LX

b.      Mencari nilai ketidakpastian Rangkaian Seri

c.       Mencari RX Rangkaian Paralel
R1 L1 = RX LX

d.      Mencari nilai ketidakpastian Rangkaian Paralel


VII.          HASIL DAN PEMBAHASAN
7.1  Hasil

NO
RANGKAIAN
RX
L1 (cm)
L2 (cm)
1
Seri
7,5
7,5
2
Paralel
5
10
                       





7.2  Pembahasan
Kali ini dilakukan Praktikum jembatan wheatstone yang bertujuan untuk memahami dasar pengukuran nilai hambatan dengan metode arus nol. Metode jembatan wheatstone dan untuk menentukan besarnya nilai hambatan suatu penghantar. Pada praktikum kali ini, kami tidak melakukan percobaan di karenakan terjadinya kerusakan alat. Sehingga, data percobaan dan pembahasan yang kami paparkan dalam laporan ini kami gunakan data tahun lalu sesuai anjuran asdos .

Percobaan ini bersumber dari media internet dan di tahun lalu menggunakan power supply sebagai sumber tegangan listrik. Dapat di ketahui bahwa jembatan wheatstone tidak hanya untuk mengukur yang dalam menilai besaran listrik saja namun juga untuk mengukur sesuatu hambatan listrik yang tidak diketahui dengan mengembangkan dua kali dari rangkain jembatan , dan juga untuk memperoleh ketelitian dalam melakukan pengukuran terhadap suatu tahanan yang nilainya relative kecil.

Dalam pengukuran juga dilengkapi sebuah alat yakni galvanometer yang sangat sensitive yang digunakan pada saat menghitung suatu sumber tegangan DC. Mengapa dapat dikatakan sangat sensitive , karena galvanometer ini ialah suatu alat yang dapat mengukur arus yang sangat kecil sekalipun.

Pada prinsip dasar pengukuran nilai hambatan dalam praktikum ini yaitu di literature menggunakan metode arus nol, dimana pada rangkaian ini diusahakan atau diaturkan agar tidak ada arus yang mengalir atau arus pada sebuah galvanometer menunjukkan angak nol sehingga tercapai suatu keadaan setimbang. Untuk mendapatkan suatu keadaan setimbang dengan ukuran skala pada galvanometer nya nol ialah, dengan menentukan hambatan yang dimiliki oleh resistor yakni dengan rangkain jembatan wheatstone ini terlebih dahulu agar mengatur kontak geser dari kabel hitam yang tidak terpakai lalu kemudian di geser-geserkan hingga kemudian skala yang ditunjukkan oleh galvanometer ini adalah nol.

Karena jembatan wheatstone ini dikatakan setimbang jika beda potensial pada galvanometer ini sama dengan nol sehingga tidak ada arus yang melalui galvanometer tersebut berdasarkan praktikum ini yang kami gunakan ialah hukum Kirchoff I yang menyatakan pada rangkaian tertutup, jumlah ggl dan jumlah penurunan potensial sama dengan nol. Sedangkan untuk menghitung nilai hambatan yang belum diketahui besarnya maka dapat di gunakan persamaan yang berkaitan dengan hukum ohm.

Berdasarkan hasil praktikum tahun lalu yang telah kami baca, maka kami mendapatkan hasilnya yaitu antara L1 dan L2 pada rangkaian seri ini sama, sedangkan pada L1 dan L2 pada rangkaian parallel nya berbeda yakni :

*Pada rangkaian seri
L1 = 7,5 cm
L2 = 7,5 cm

* Pada rangkaian parallel
L1 = 5 cm
L2 = 10 cm
VIII.       KESIMPULAN

      Melalui sumber bacaan dan media pendukung, maka simpulan yang kami peroleh ialah :

1.      Prinsip kerja pada jembatan Whetastone ialah melalui dua buah rangkaian seri dari dua buah hambatan di paralelkan dan diantara sambungan – sambungan serinya dipasangkan sebuah Galvanometer. Rangkaian ini kemudian dihubungkan dengan sebuah sumber GGL dan sebuah hambatan geser atau rheostat.

2.      Persyaratan yang berlaku pada Jembatan Wheatstone adalah dimana pada saat keadaan rangkaian menapai keadaan seimbang disitulah dapat dikatakan sebuah Jembatan Wheatstone.

3.      Besarnya nilai sebuah hambatan dengan jembatan wheatstone dapat menggunakan rumus :

VAC  =  VAD   dan   VCB  =  VDB
   atau
 i1 R1  =  i2 R2  dan   i1 R2  =  i2 R4

                        Jika kedua persamaan terakhir diatas kita bandingkan maka akan
                        diperoleh :

                       




DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Bowo Eko dan Misto. 2006. Pengukuran Laju Putaran Dengan
Menggunakan Transduser Induktif. Jember : Jurnal Transistor,
Vol. 8, No. 2, Desember 2006: 1-10.

Cooper, David William.1994. Instrumen Elektronik dan Teknik
Pengukuran. Jakarta, Erlangga

Eko, Bowo Cahyono, dan Minto. 2014. Pengukuran Laju Putaran dengan
menggunakan transduser Induktif.

Herlan, Dedeng. 2014. Studi Pengaruh Pengaman Galvanometer
Terhadap Keakuratan Hasil Pengukuran Resistor Pada Jembatan
Wheatstone Sederhana. Jurnal Teknik Elektro ISSN 2407-1846 .

Sapiie, Nishino. 1974. Pengukuran dan Alat-Alat Ukur Listrik. Jakarta :
Erlangga

Young. 2002. Fisika Universitas. Jakarta : Erlangga.










LAMPIRAN HITUNG

a.       Mencari RX Rangkaian seri
R1 . L1 = Rx . LX
100 . 7,5  =  Rx . 7,5
750  = Rx 7,5
Rx = 750 / 7,5
Rx = 100 Ohm

b.      Mencari Nilai Ketidakpastian Rangkaian Seri
  x 100 %
              X 100 %
K = 1 – 0 %
K = 1

c.       Mencari Rx Rangkaian Paralel
R1 . L1  =  Rx . LX
100 . 5  = Rx . 10
550  =  10 Rx
   Rx  =  550 / 10
   Rx  =  50 Ohm

d.      Mencari Nilai Ketidakpastian Rangkaian Paralel
        X 100 %
  X 100 %
K  = 1 –  (-0,5)  X 100 %
K  = 51 %

Komentar